Fiqh, Syari’ah, Dan Ushul Fiqh

  • Fiqh

Kata fiqh secara bahasa berarti : al-‘ilmu  (pengetahuan)  atau al-fahmu (pemahaman) saja, baik pemahaman  itu  secara mendalam ataupun dangkal.  Sementara  itu  Abu Zahrah mengatakan  bahwa  arti  al-fiqh  secara  bahasa  tidak sekadar  pemahaman saja  tapi  al fahmul’amiiqu yaitu pemahaman yang mendalam.

Adapun pengertian  fiqh menurut istilah adalah Ilmu tentang hukum-hukum syar`i yang praktis yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci. atau Ilmu yang menerangkan tentang hukum-hukum  syar`i  yang  berkaitan dengan  perbuatan-perbuatan  para mukallaf  yang dikeluarkan dari dalil-dalilnya  yang terperinci.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fiqh bukanlah hukum syar`i itu sendiri, tetapi interpretasi terhadap hukum syar`i (baca: syari`ah). Sementara syari`ah dalam pengertian masa awal adalah agama Islam yakni segala ketentuan Allah yang disyari`atkan kepada hamba-hamba-Nya, baik menyangkut aqidah, ibadah, akhlaq dan mu`amalah.

  • Syari’ah

Syari`ah dalam pengertian masa awal adalah agama Islam yakni segala ketentuan Allah yang disyari`a tka n kepada hamba-hamba-Nya, baik menyangkut aqidah, ibadah, akhlaq dan mu`amalah.

Namun dalam perkembangan selanjutnya kata syari`ah lebih ditujukan penggunaa nnya untuk hukum Islam yang bersifat praktis (`amali). Syari`ah adalah: Titah Allah yang berhubungan dengan perbuatan para mukallaf, baik berupa tuntutan (untuk melaksanakan atau meninggalkan), pilihan, maupun berupa wadh`i (syarat, sebab, halangan, sah, batal, dan rukhshah).

  • Ushul Fiqh

Selain istilah fiqh di atas, dikenal juga istilah ushul fiqh yang secara bahasa berarti dasar-dasar fiqh. Sedangkan menurut istilah, ushul fiqh adalah kaidah-kaidah yang dijadikan sarana untuk mengistinbâthkan (menggali/mengeluarkan) hukum Islam dari dalil-dalilnya yang terinci. Hal-hal yang dibicarakan dalam ushul fiqh adalah kaidah-kaidah fiqhiyyah, kaidah-kaidah ushuliyyah, kaidah-kaidah bahasa, dan metode-metode dalam berijtihad.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah fiqh mengacu kepada ilmu yang membahas masalah-masalah hukum Islam yang praktis, sedangkan istilah ushul fiqh mengacu pada ilmu yang membahas kaidah-kaidah mengenai metode dalam menggali hukum dari dalil-dalilnya yang sudah terinci. Contoh: Mengapa shalat dan zakat itu wajib? Seorang ahli fiqh akan menjawab dengan mendasarkannya pada firman Allah SWT antara lain dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 43:

Artinya : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku.”.

Tetapi bila muncul pertanyaan, kenapa dari ayat tersebut bisa disimpulkan bahwa shalat itu wajib, maka ahli ushûl al-fiqh akan menjawab dengan mendasarkannya pada kaidah bahasa yang berbunyi: “Pada dasarnya perintah itu (menunjukkan) pada wajib.”

Kata ahli ushûl al-fiqh lebih lanjut bahwa: “Perintah kepada sesuatu berarti larangan kepada kebalikannya.”

Bila ditinjau dari lapangan hukumnya,  maka fiqh dibagi menjadi dua macam, yaitu:

  • Fiqh Ibadah (dalam arti sempit =`ibâdah mahdlah/`ibâdah khâshshah) yaitu: perkataan dan perbuatan para mukallaf yang berhubungan langsung dengan Allah SWT. Hal yang dibahas dalam fiqh ibadah adalah masalah- masalah thaharah, shalat, zakat, puasa dan haji.

  • Fiqh Mu`amalat (dalam arti luas) yaitu perkataan dan perbuatan para mukallaf yang berkaitan dengan sesamanya. Lingkup pembahasan fiqh mu‘amalah sekitar masalah bisnis dan jual-beli, masalah perkawinan dan perceraian, waris, peradilan, hukum pidana, masalah kenegaraan, dan hubungan internasional. Mu’amalat dalam arti luas ini sering disamakan dengan ibadah umum (‘ibâdah ‘âmmah), sedangkan mu’amalat dalam arti sempit lebih dikenal dengan masalah ekonomi, bisnis dan jual-beli saja.